Top Ads


Sebelas Duabelas (1112), Suatu Komparasi Di antara Kita

Ilustrasi.


[Tajuk Rencana] - Seringkali untuk memperbandingkan sesuatu dengan tingkat kesamaan, kemiripan, maupun kedekatan, kita menggunakan istilah 'sebelas duabelas - 11 12' dalam kehidupan keseharian kita. Tak ada yang salah dengan itu, justru hal itu adalah sesuatu yang kreatif.

Analogi lain yang punya istilah serupa seperti di atas adalah tanggal dan bulan saat ini, yakni 11 Desember. Bentuk kreatifitas yang belakangan ini juga lagi tren dalam memberikan kode penanggalan seperti halnya demikian bila dibuat praktis adalah 1112. Atau ada juga yang menambahkan tanda tagar di depannya menjadi #1112.
Hal yang mudah untuk mengingat kapan istilah kreatif tersebut mulai tren, barangkali sekitar setahun yang lalu, yaitu gerakan aksi damai oleh beberapa kelompok masyarakat (ormas) yang dipicu oleh penyebaran 'hate speech' dari orang yang diduga sengaja memperkeruh suasana yang berkaitan dengan kontestasi politik DKI Jakarta saat itu.
Belum lagi, isu terhangat internasional saat ini, yakni polemik soal pengakuan sepihak oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan bahwa Yerusalem adalah ibukota dari Israel. Bahkan, Pemerintah AS juga menunjukkannya dengan wacana pemindahan gedung Kedubesnya ke Yerusalem. Langkah Donal Trump tersebut hingga menimbulkan kecaman dari berbagai pihak hingga negara-negara lain, termasuk negara kita Indonesia.
Pertayaan yang mendasar mengapa persoalan antara Palestina dan Israel seolah tak berujung sedari dulu, sekarang dan hari esok? Bahkan, pertikaian antara kedua negara ini juga seolah membuat soal keagamaan ikut terusik. Padahal, faktor utama yang melatarbelakanginya kita tak tahu persisnya seperti apa.
Sesungguhnya, komparasi antara Yahudi, Kristen dan Islam adalah bisa dikatakan 'sebelas duabelas (1112)'. Tiga agama ini memiliki kesamaan menjadikannya tanah Palestina-Israel sebagai pusat keagamaan dan sama-sama berkeyakinan akan Tuhan Yang Hidup meski penyebutan nabi di antaranya sedikit berbeda sebutan. Pada intinya, bisa dikatakan ketiganya adalah sebelas duabelas.
Menanggapi isu terkini tersebut, meski memang di antara kita yang memang adalah sebelas duabelas, hendaknya reaksi kita sebagai umat beragama dalam bingkai kebhinekaan NKRI tidak berlebihan, apalagi hingga berpotensi memicu konflik. Soal sikap 'politik luar negeri' negara kita, kita serahkan sepenuhnya kepada pemerintah agar dapat mengambil sikap dan langkah yang arif dan bijaksana.
Jangan sampai ada di antara kita yang terprovokasi dan jangan mau diadudomba demi stabilitas keamanan, sosial politik bangsa kita. Karena jika sampai terganggu, akan ada banyak harga yang harus kita bayar dan yang dirugikan adalah kita sendiri selaku pemeluk agama yang adalah 'sebelas duabelas'.

Posting Komentar

0 Komentar