Top Ads


'Memberi Salam', Sebuah Ujian Sikap Toleransi Yang Paling Gampang

Ilstrasi.


[Tajuk Rencana] - Bulan Desember secara umum kita ketahui adalah merupakan momentum bagi umat kristiani di belahan penjuru dunia manapun memperingatinya sebagai hari Natal, yang mana Yesus Kristus (Nabi ISA AL-MASIH) lahir ke dunia sesuai dengan ajaran dan keyakinan umat kristiani.
Namun, dalam merawat toleransi yang adalah bagian dari kebhinekaan, tidaklah mudah mengimplementasikannya antarumat beragama. Peristiwa 'bom natal' kerap terjadi di tahun-tahun sebelumnya baik di negeri ini maupun di luar negeri. Segelintir kelompok yang mengatasnamakan agama dan 'tuhan', rela melakukan bom bunuh diri untuk sesuatu yang menurutnya diyakini benar, meski jika berpikir logis dan sehat, perbuatan keji demikian sesungguhnya adalah sesat.
Momen Natal senantiasa membawa pesan damai bagaimana hidup antaragama bisa terjalin harmoni. Adalah tidak salah, dan di mana letak kesalahannya manakala jika ada orang yang beranggapan ketika mengucapkan Selamat Natal adalah haram? Sebaliknya, ketika momen bagi umat muslim ataupun agama yang lainnya, adalah sebuah sikap yang bertoleransi ketika umat kristiani mengucapkan Selamat Idul Fitri bagi umat muslim ketika sedang merayakannya.
Seberapa berat sebenarnya mengucapkan ucapan selamat yang demikian kepada sesama kita yang sedang merayakan hari besar keagamaannya? Terlalu gampang dan enteng. Hanya dibutuhkan niat tulus dan kesadaran berpikir sehat untuk melakukan contoh demikian.
Belum lama ini, di Kota Medan, sebuah baliho dari Wali Kota Medan bersama Wakilnya yang menyampaikan pesan 'SelamatTahun Baru 2018', namun tidak tercantum 'Selamat Natal 2017' yang harusnya tercantum sebelumnya pada bagian atas. Justru hal itu kosong sama sekali. Entah faktor kesengajaan pihak-pihak yang tak bertanggungjawab, seharusnya insiden demikian tidak boleh terjadi karena bisa menciderai antarumat beragama.
Belakangan, hanya berselang berapa hari kemudian, baliho tersebut tampaknya sudah berganti menjadi bagaimana idealnya setelah sebelumnya para warganet ramai memperbincangkannya di media sosial.
Peristiwa seperti contoh demikian tidak boleh terjadi lagi di kemudian hari. Untuk itu seorang pemimpin daerah harus memastikan bahwa anggotanya benar-benar bisa bekerja dengan penuh integristas bagaimana melayani kepentingan umum dalam hal penyampaian informasi dan komunikasi ke masyarakat.
Kita ketahui bersama bahwa seorang kepala daerah ketika dipilih maupun terpilih, tidaklah didukung oleh konstituen oleh umat dari satu agama saja. Pasti masyarakat yang beragam agama andil memilihnya. Apalagi ketika sudah menjabat, tentu sikap dan kepemimpinannyapun harus bagi semua umat dan golongan.
Ujian bersikap toleran itu dimulai hal-hal yang mendasar dan yang paling gampang. Jika kita berhasil melaluinya maka ujian yang lebih besar tidak akan memengaruhi kehidupan keberagaman kita sebagai umat beragama selama memang Pancasila dan UUD 1945 yang menjadi landasan kita hidup berbangsa dan bernegara.


Posting Komentar

0 Komentar