![]() |
| Ilustrasi. |
Oleh: Eko Sinaga
Entah mengapa, sudah lebih dari sepuluh hari ini hatiku gundah-gulana. Tiada selera makan, begitu juga ketika tidur, mata terasa amat sulit untuk terpejam.
Setelah, kucoba sedikit menjernihkan pikiranku 'tuk berpikir, ternyata sirkulasi pikiranku tengah terhambat hanya memikirkan soal perpindahan persawahan.
Huuufffffffffff......... (Aku menghela nafas seraya tertunduk lesu)
Sesungguhnya, jauh di lubuk hatiku yang terdalam, inginku adalah pindah ke persawahan yang lain, oleh karena di sana jauh lebih luas arealnya sekaligus kondisi tanahnya lebih baik dan lebih gembur.
Alasanku simpel saja, agar nantinya ketika panen tiba, akan ada banyak padi yang kubawa pulang ke rumah. Sebelumnya, aku memang telah menemui Kepala Desa meminta agar aku dibuatkan surat keterangan domisili sebagai pertanda bahwa memang benarlah aku bermukim di kampung ini.
Juga, aku telah pergi menemui 'orang pintar', agar supaya bagiku diberikan pertanda, bahwa aku beroleh kesehatan ketika rencana perpindahan persawahan yang kuinginkan. Tetapi, tetap saja hingga kini, hatiku masih dilanda rasa gundah-gulana. Aku sendiri tidak tahu mengapa hal ini terjadi.
Kepada sahabat-sahabatku dari tujuh arah penjuru angin..., juga dari sanak famili, telah kumintai nasehat dari mereka. Beberapa dari mereka, ada yang mendukung, juga ada yang tidak setuju akan inginku ini. Ironisnya, dari antara mereka lebih banyak yang terdiam tetapi dengan mulut yang terus berceloteh. Aku heran, Aku bingung. Mereka memang tidak akan pernah mengerti akan apa yang kualami kini.
Kemarin lalu, akupun mencoba membelikan jeruk purut dan kemudian pada tengah malamnya, aku memandikannya sebagai media sekaligus keyakinan bagiku bahwa nantinya aku akan merasa lebih tenang, baik tubuh maupun batinku. Tak lupa sesudahnya, aku juga membakar kemenyan sebagai dupa dan bentuk pemujaanku.
Keesokan harinya, saat bangun pagi, hal yang sama, masih juga terjadi dan kurasakan. Entah apa gerangan yang menjadi sebab-musababnya, akupun tak tahu lagi.
Oleh karena aku semakin kebingungan, bahkan sepertinya semakin terasa memuncak, terkadang tubuhku terasa panas-dingin, hingga berujung pada rasa mual dan akhirnya buang hajat yang tak normal ke belakang.
Malam harinya, tiba-tiba ibuku meneleponku. Setelah kami bertanya kabar satu sama lain, akupun mencoba menceriterakan kepada ibu akan apa yang kualami belakangan ini, rasa cemas dan hatiku yang gundah-gulana.
"Janganlah engkau pindah dari persawahanmu yang tak seberapa itu. Berapapun hasil yang engkau peroleh selama ini, syukurilah kepada Tuhan. Karena sesungguhnya urusan kekayaan sudah diatur oleh Maha Pencipta," ungkapnya.
Jawabku kepada Ibu, "Oh...demikiankah Ibu? Baiklah."
Lanjut Ibu lagi, "Tahukah kamu, aku merasa cemas juga sewaktu engkau berkata padaku minggu lalu yang mengatakan bahwa ada rencana untuk berpindah persawahan yang lebih besar dan lebih baik. Hanya, aku tak langsung menanggapi, oleh karena engkau tak menanyakan kira-kira bagaimana tanggapanku."
Jawabku lagi, "Begitukah Ibu?"
Seketika, ketika Ibu mengatakan hal demikian padaku, baru kemudian aku mengalami rasa tenang, terlebih pikiranku. Padahal, selama ini bisa dikatakan bahwa aku sangat jarang menuruti nasehat Ibuku.
Di akhir perbincangan antara aku dan Ibuku, malam itu, akupun berucap terima kasih padanya seraya menyapanya dengan, "Selamat malam ya Ibu."









0 Komentar
Silakan berkomentar!