Top Ads


Menanti Implementasi Promosi Fantastis Danau Toba Sebagai Daerah Tujuan Wisata Prioritas

Salah seorang wisatawan lokal yang tengah berkunjung ke Samosir, JTS Hotel Parbaba. Foto/Abhotneo



Samosir, dailysatu.com - Siapa yang tak mengagumi keindahan Danau Toba, sebuah mitologi yang tercipta akibat letusan maha dahsyat gunung toba dengan bentangannya yang sangat luas, pasti membuat siapa saja akan takjub dan terpukau.

Jangankan wisatawan asing, wisatawan lokal sekalipun pasti akan tertegun dan mengaku tidak akan pernah bosan dengan keindahan danau terbesar se-Asia Tenggara itu.

Era Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Danau Toba tengah mendapatkan sorotan yang luar biasa belakangan ini. Bagaimana tidak, beberapa waktu lalu pengembangan destinasi yang satu ini telah diambilalih oleh Pemerintah Pusat lewat Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT).

Berbagai pihak khususnya 7 Kabupaten kawasan Danau Toba telah berkoordinasi dengan Pemerintah Pusat bahwa akan dikembangkan dan dipromosikan secara fantastis dan luar biasa. Isu tersebut merebak hingga ke nusantara, terbukti ada banyak warga Sumatera Utara yang berdomisili di luar Sumutpun sibuk wara-wiri ke kampung halaman mereka untuk melakukan survei lokasi dan peluang investasi seperti apa ke depannya yang bisa diambil.

Bahkan, beberapa media nasional mencatat lewat pemberitaan ada 6 calon investor konglomerat Indonesia akan segera menggelontorkan dana mereka untuk membangun Danau Toba sebagai daerah destinasi wisata berkelas internasional.

Dailysatu.com belum lama ini ketika mengunjungi Kabupaten Samosir dan Kabupaten Simalungun, mengamati wacana besar dari Pemerintah Pusat tersebut sepertinya belum bergerak secara signifikan. Utamanya gerakan ‘revolusi mental’ terhadap sumber daya manusia di daerah tersebut masih jauh dari kesiapan apabila diwujudkannya kawasan tersebut sebagai destinasi wisata berkelas internasional kelak.

Salah satu biang masalah yang akhir-akhir ini mendapat sorotan dan dipojokkan sebagai penyebab dari kerusakan lingkungan dan ekosistem danau adalah ‘keramba jaring apung’ (KJA), masih saja banyak ditemukan di perairan Danau Toba. Bahkan, yang masih segar dalam ingatan kita adalah akan musibah matinya jutaan ekor ikan secara mendadak di Keramba Jaring Apung (KJA) petani/peternak ikan di Pintusona, Kabupaten Samosir.

Merunut jauh ke belakang, promosi Danau Toba sebenarnya sudah digalakkan mulai tahun 80-an hingga 90-an, namun tidak atau belum diikuti dengan pemberdayaan masyakarat di sekitarnya oleh pihak pemerintah daerah sehingga pembiaran tersebut masih jauh dari kesiapan mental sumber daya manusianya.

Akan jauh lebih berdampak apabila wacana besar tersebut diprioritaskan terlebih dahulu, atau paling tidak berjalan secara beriringan antara pembangunan infrastruktur dan pembangunan sumber daya manusianya, maka tujuan besar tersebut dapat terimplementasi dengan baik. (Abhotneo)

Editor : -

Posting Komentar

0 Komentar