Top Ads


Pancasila Sakti Yang Kerap Dikhianati



Oleh: AbhotneoNaibaho

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidaklah ada dengan satu kebetulan. Negara kita tercita ini terbentuk oleh karena ada harga yang tak ternilai untuk membayarnya. Menebusnya dari kekuasaan penjajah asing dengan segala daya-upaya para pendahulu kita yakni para pejuang. Taruhan darah dan nyawa dikorbankan demi sebuah kemerdekaan yang sejati.
Sebagai generasi penerus, kita tidak lagi hidup di jaman penjajahan. Bahkan perjuangan kita saat ini tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan para pejuang negeri ini. Bersyukurlah kita wahai generasi penerus jikalau kita memiliki tatanan Negara yang baik. Pancasila sebagai dasar Negara, tentu menjadi kekaguman di mata bangsa asing. Keberbedaan di Negara kita bisa dipersatukan dengan Pancasila.
Namun, semangat akan Pancasila seiring waktu kian luntur. Bahkan kerap dinodai dan dikhianati. Mengatasnamakan Tuhan, hanya untuk kepentingan kelompok. Mengatasnamakan Tuhan, tapi tidak memahami apa itu Pancasila sebagai dasar kita bernegara.
Semakin banyak yang tak menghayati kesaktian Pancasila. Hal ini bisa dibuktikan, bahwsanya di sekolah-sekolah dari tingkat yang terendah hingga tingkat atas, budaya melafalkan Pacasila kian sirna, konon lagi katanya meghayati dan mengamalkannya.
Dewasa ini, Negara dibuat sedikit terganggu dengan yang namanya “bangkitnya para PKI” dengan beberapa indikasi seperti lambang maupun simbol komunis di beberapa kesempatan. Dalam beberapa diskusi menimbulkan perdebatan yang alot dari beberapa tokoh nasional baik sipil maupun TNI/ Polri. Bahkan, ‘Simposium 1965 sebagai upaya Pemerintah selesaikan tragedi’ yang digagas oleh Gubernur Lemhanas Agus Widjojo cenderung menimbulkan kontroversi bagi beberapa pihak.
Sebagai seorang awam, saya menyadari betapa Pancasila kita sesungguhnya punya kesaktian. Paling tidak, dalam silanya yang pertama dilandaskan dengan kata “Ketuhanan”. Menunjukkan bahwa identitas bangsa kita adalah bangsa yang ber-Tuhan, bukan atheis. Jikalau mengawali segala sesuatunya dengan berlandaskan Tuhan, bukankah seyogianya kita rakyat Indonesia berperilaku sebagaimana Tuhan mengajarkan umatnya menurut kepercayaan kita masing-masing?
Multi agama, tak seharusnya membuat perbedaan di tengah-tengah kita hidup berbangsa kalau memang kita berlandaskan akan Tuhan sebagaimana yang tercantum dalam sila yang pertama.
Kebebasan beragama, seharusnya menjadi warna tersendiri bangsa kita di mata dunia. Indonesia memang unik. Bahkan keunikannya tak dimiliki oleh bangsa-bangsa lain. Negara kepulauan dengan beragam suku dan bahasa, bisa bersatu dengan dasar Negara Pancasila.
Pancasila adalah milik semua agama. Milik semua rakyat Indonesia. Persatuan Indonesia hanya bisa diikat oleh kesaktian Pancasila. Kalau pun mungkin ada pihak-pihak yang mulai mengkhianati Pancasila atau bahkan tidak lagi mengamalkannya sehingga perilakunya melanggar Pancasila, Negara tidak bisa diam. Negara harus mampu mengambil sikap dan kebijakan yang tegas soal nasionalisme.
Taka ada salahnya penekanan akan Pancasila mulai digalakkan lagi sejak dini di tengah-tengah rakyat Indonesia pada tingkat sekolah yang paling dasar dan seterunya hingga tingkat tertinggi. Membudayakan dengan cara melafalkan, menghayati serta mengamalkannya tentu akan berdampak positif bagi pembentukan karakter generasi penerus bagaimana menjadi seorang yang nasionalis. Bagaimana hidup berbangsa dengan menjunjung tinggi toleransi dan keberagaman.
Semangat Pancasila seharusnya tidak hanya disosialisasikan oleh para elit politik. Terlebih-lebih kaum pendidik punya peran serta yang kuat untuk terus mensosialisasikan sejak dini kepada generasi penerus. Sehingga nantinya semangat nasionalisme akan berakar di dalam ruh dan jiwa generasi penerus bangsa.
Jangan ada lagi penindasan soal perbedaan agama dan keyakinan. Jangan ada lagi perampasan hak kemanusiaan. Jangan ada lagi pembiaran Negara terhadap kaum minoritas. Supaya dengan demikian, kita tidak menodai dan mengkhianati Pancasila Sakti.
Sudah seharusnya kita rakyat Indonesia menjadi orang-orang yang idealis dengan mengusung ideologi Negara yakni Pancasila. Kalau hal ini menyeluruh ke seluruh pelosok bumi pertiwi, bangsa manapun yang akan mencoba merongrong rasa persatuan kita, tidak akan berhasil karena lagi-lagi Pancasila yang kita banggakan dengan berlandaskan Tuhan pada silanya yang pertama akan menunjukkan kesaktiannya lewat idealisme kita berbangsa. Mari menghayati ‘KesaktianPancasila’ 1 Juni!

Posting Komentar

0 Komentar